Batik Pringmas merupakan salah satu pesona wastra tradisional Indonesia yang berasal dari Desa Papringan, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Dikenal dengan motif utamanya yang terinspirasi dari tanaman bambu atau "pring" dalam bahasa Jawa, batik ini tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga sarat akan makna filosofis yang mendalam tentang kehidupan masyarakat Banyumas.
Batik ini lahir dan dikembangkan oleh Kelompok Usaha Bersama (KUB) Pringmas, sebuah komunitas pengrajin batik yang mayoritas adalah perempuan di Desa Papringan. Nama "Pringmas" sendiri merupakan akronim dari "Pring" yang berarti bambu dan "Mas" yang merujuk pada masyarakat. Nama ini merefleksikan identitas utama batik mereka sekaligus kedekatan tanaman bambu dengan kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat.
Motif bambu pada Batik Pringmas bukanlah sekadar hiasan. Tanaman ini dipilih karena karakternya yang dianggap mewakili nilai-nilai luhur masyarakat Banyumas. Filosofi utama yang terkandung dalam motif bambu antara lain:
Kebersamaan dan Kekeluargaan: Bambu yang selalu hidup merumpun menjadi simbol eratnya ikatan keluarga dan semangat gotong royong dalam masyarakat. Salah satu motif andalan mereka adalah "Pring Sedapur" atau serumpun bambu, yang secara gamblang menggambarkan harapan akan keutuhan dan kerukunan dalam keluarga.
Kekuatan dan Kelenturan: Batang bambu yang kokoh namun lentur dan tidak mudah patah saat diterpa angin kencang menjadi perlambang ketangguhan, kemampuan beradaptasi, dan tidak mudah menyerah dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
Kemanfaatan: Seluruh bagian tanaman bambu, dari akar hingga daunnya, dapat memberikan manfaat bagi manusia. Ini mencerminkan harapan agar setiap individu dapat memberikan kontribusi dan kebaikan bagi lingkungan sekitarnya.
Sebagai bagian dari rumpun batik Banyumasan, Batik Pringmas memiliki beberapa ciri khas yang membedakannya. Secara umum, batik ini cenderung menggunakan warna-warna sogan (cokelat) dan wedelan (biru tua) dengan latar yang gelap seperti hitam atau cokelat tua. Pewarnaan ini memberikan kesan klasik dan bersahaja.
Selain motif utama "Pring Sedapur", para pengrajin di KUB Pringmas juga mengembangkan berbagai motif lain yang terinspirasi dari alam dan kehidupan sehari-hari masyarakat Banyumas, seperti:
Wahyu Tumurun: Motif yang melambangkan harapan akan anugerah dan petunjuk dari Tuhan Yang Maha Esa.
Lumbon: Motif yang terinspirasi dari daun talas, sebagai simbol kemampuan beradaptasi dan bergaul dengan siapa saja.
Udan Liris: Motif hujan gerimis yang memiliki makna ketabahan dan harapan akan kesuburan.
Seluruh proses produksi Batik Pringmas dilakukan secara tradisional, yaitu dengan teknik batik tulis asli menggunakan canting dan malam. Proses yang membutuhkan ketelatenan dan keahlian tinggi ini menjadikan setiap helai kain Batik Pringmas sebagai sebuah karya seni yang unik dan bernilai tinggi.
Keberadaan KUB Pringmas tidak hanya berperan dalam melestarikan warisan budaya batik, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi bagi masyarakat Desa Papringan. Selain memproduksi dan menjual kain batik, KUB Pringmas juga aktif dalam kegiatan edukasi dengan membuka pintu bagi siapa saja yang ingin belajar membatik. Melalui program eduwisata ini, pengunjung dapat melihat secara langsung proses pembuatan batik tulis dan bahkan mencoba sendiri untuk menggoreskan canting di atas kain.
Dengan filosofi yang kuat, keindahan motif yang khas, dan semangat pemberdayaan masyarakat, Batik Pringmas telah menjelma menjadi lebih dari sekadar selembar kain. Ia adalah cerminan budaya, kearifan lokal, dan semangat gotong royong masyarakat Banyumas yang tertuang dalam goresan malam dan untaian warna.