Di atas sehelai kain mori putih yang terhampar, sebuah proses penuh ketekunan dan seni dimulai. Inilah tahap awal dalam penciptaan batik tulis, di mana jiwa dan karakter dari selembar kain mulai diguratkan. Seorang pembatik dengan saksama mencondongkan tubuhnya, tangannya dengan mantap memegang alat gambar, menuangkan imajinasi ke dalam goresan-goresan pertama.
Proses ini dikenal dengan sebutan molani atau nyorek, yaitu memindahkan atau membuat pola dasar motif batik di atas kain. Setiap garis yang ditarik bukan sekadar gambar, melainkan sebuah rancangan yang penuh perhitungan. Seperti yang tersirat dalam teks pada gambar, seorang pembatik tidak hanya menggambar, tetapi juga merancang. Ia harus membayangkan bagaimana motif-motif ini akan menyatu dan terhubung dengan indah ketika kain tersebut kelak berubah menjadi sehelai kemeja, gaun, atau busana lainnya.
Dengan tatapan fokus dan penuh konsentrasi, sang pembatik memastikan setiap lekuk, titik, dan isen-isen (isian motif) diletakkan secara presisi. Pola yang terintegrasi dan harmonis menjadi tujuannya. Tahap ini adalah fondasi dari keseluruhan karya batik. Kesalahan kecil dalam perancangan pola dapat memengaruhi keindahan hasil akhir. Oleh karena itu, tahap menggambar motif ini menuntut kesabaran, ketelitian, dan visi artistik yang kuat dari sang pembatik, menjadikannya sebuah langkah krusial yang melahirkan mahakarya wastra Nusantara.